tulisan, eh, ketikan saya lho ini

ketikan dari seorang tukang nglamun yang suka membaca apa saja asal tidak banyak angkanya…

skenario semesta

tergelitik oleh twit twit nya ki dalang sudjiwo tedjo hari ini, saya jadi ingat ajaran jawa dari embah saya dulu, bahwa semua yang terjadi di alam ini ada skenarionya, semuanya berjalan sesuai skenario yang sudah diatur oleh Gusti yang menguasai alam semesta.

Maka dari itu orang jawa selalu memegang teguh kalimat “ojo dumeh, ojo gumunan, ojo kagetan” (jangan mentang mentang, jangan gampang heran, jangan gampang kaget). Karena toh semua sudah ada skenarionya, dan kita ini cuma aktor dan aktris yang menjalani lakon masing masing. Dan kuasa Tuhan itu tidak terbatas, apa saja yang menurut akal manusia tidak mungkin, bisa saja terjadi kalau itu sudah kehendak Tuhan.

Maka dari itu biasanya orang jawa cenderung datar dalam memaknai hal hal yang menimpa dirinya, hingga terkesan tanpa emosi. lha kenapa harus dipikirkan berat berat? toh memang sudah harusnya kita menerima itu kok. entah hal yang menimpa kita ini konsekuensi dari karma yang dulu kita tanam, atau ujian Tuhan, orang jawa biasanya akan menerima nya dengan lapang dada, dan keep going on with best efforts.

dan ini bukan berarti fatalis, nglokro saja tanpa berbuat apa apa lalu berharap yang terbaik. karena sikap nglokro ada konsekuensinya. Dan orang jawa juga punya kalimat “ngunduh wohing pakarti”, yaitu menuai konsekuensi/ buah perbuatan yang kita lakukan. misalnya kalau kita menyeberang sembarangan di jalan tol, ya konsekuensinya ketabrak…kecuali kalau Tuhan berkehendak lain lho ya…

if you dont have anything positive to say, just shut up

“if you don’t have anything positive to say, just shut up”

kalimat pendek yang saya sering baca di beberapa penjuru internet, yang cukup ‘nyentil’ menurut saya. Kalau tidak punya sesuatu yang positif untuk dikatakan, mending diam saja.

Kadangkala kita mengalami hari dimana semuanya terasa membuat bad mood, hari yang sepertinya full of negativity. nah, menurut saya, hal yang kaya gini harus kita sendiri yang ‘membetulkan’, karena kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk mengurangi bad mood kita, wong perasaan bad mood itu dari pikiran kita sendiri kok. tentu kitalah yang paling bisa mengatasinya.

bad mood berasal dari negative ambience di sekitar kita, nah kalau kita bisa mengurangi negative ambience itu dengan mengalirkan energi positif, kenapa tidak?

itulah sebabnya saya setuju sekali dengan kalimat diatas tadi, kalau nggak bisa ngomong positif, mendingan diam saja lah. sudah terlalu banyak hal yang bisa me radiasi kan energi negatif di sekitar kita, terutama di jakarta, entah itu macet, KRL gangguan, banjir, motor nyerobot trotoar, copet, dan segala macam masalah khas ibukota yang membuat orang orang jadi bersikap negatif, tidak perlu kita tambahi dengan diri kita yang juga mengeluarkan energi negatif.

mendingan kita berusaha untuk selalu berpikir, berbuat, dan berkata hal hal yang positif, setidaknya bisa mengurangi energi negatif yang memancara dari sana sini, dan membuat orang di sekitar kita jadi lebih adem karena kehadiran kita. dan kalau yang ada di otak kita dan pengen kita keluarkan ternyata gak ada positif positifnya, yah, diam saja…siapa tahu di sekitar kita lagi ada orang yang sedang gak ingin ditambahi negative ambience nya, hehe

roda jaman akan selalu berputar

Kemarin siang, sepulang dari kantor, kembali saya dipertemukan oleh Tuhan dengan seorang sopir angkot yang asyik untuk diajak ngobrol, lebih tepatnya sayalah yang diajak ngobrol, bapak sopir angkotnya sumeh sekali.

Pembicaraan diawali ketika seorang penumpang di kursi belakang, anak kecil berusia 6-7 tahun, bernyanyi keras keras dengan nada gembira “iwak peyeekkkk…iwak peyekkk”. Pak sopir pun berkata kepada saya yang duduk di sampingnya “beras mahal aja masih bisa nyanyi ya pak, apalagi beras murah…” saya pun menjawab “bisa joget kali tuh”

Pembicaraan pun mengalir, “jaman dulu pak, jaman saya kecil tahun 66 abis gestapu, disini (daerah Bojonggede) beras susaahhhh. Saya aja kebetulan nenek saya di ciawi punya sawah, jadi kadang masih bisa makan beras, kalau tetangga tetangga sini mah, makannya jagung. Makanya yang bisa makan beras, kalo gak orang kaya, ya petani yang punya sawah”, Saya jawab “di sini tahun 66 udah rame belum sih pak?”, “di sini mah masih hutan, daerah gaperi (maksudnya perumahan Bojong depok baru 1&2, juga Acropolis karadenan) masih hutan, paling ada juga perkebunan karet tinggalan belanda”. saya kembali bertanya “kalo jalanan pak? jalan setapak kali ya”. Beliau menjawab “iya sih, jalan kecil, ada juga jalan agak gede buat lewat truk perkebunan aja, sama truk tentara”. “truk tentara?”

Dari pertanyaan saya tentang truk tentara itulah, pak sopir kita jadi bercerita tentang keadaan pada masa pasca gestapu, pasca G 30 S. Keadaan yang dialami oleh rakyat kelas grass root akibat dari konstelasi politik di jakarta, keadaan yang mereka tidak tahu urusannya. Rakyat hanya kebagian akibatnya saja, dan itu berarti rentetan kisah yang memilukan.

Pembersihan oleh tentara memakan banyak korban, kebanyakan ’simpatisan kominis’ yang ditangkapi adalah buruh kebun karet yang tidak tahu apa apa, sekedar ikut rapat yang diadakan oleh organisasi nya PKI (kemungkinan besar SOBSI), karena kalau ikut rapat dapat makan gratis dan enak, dan pulangnya juga diberi bungkusan makanan. Dari daftar hadir rapat itulah, tentara menangkapi para ’simpatisan kominis’. Pak sopir bercerita tentang banyaknya orang yang sehari hari di kampung dikenal sholeh, bahkan ada yang guru ngaji, ikut ditangkap tentara karena pernah ikut rapat, ketika saya tanyakan apa yang terjadi dengan orang orang yang ditangkap itu, beliau bilang tidak tahu, cuma dimasukkan ke dalam truk lalu dibawa kearah jakarta, gak pernah kembali. saya pikir keadaannya tidak se traumatik seperti di kampung kelahiran saya di Magetan, karesidenan madiun, dimana ’simpatisan PKI’ ditangkap, dikumpulkan, lalu dibantai di pinggir kota/ pinggir desa, bahkan konon di tengah kota juga sehingga tercatat dengan baik di memori warga, terutama yang saat itu masih anak anak seperti pak sopir kita ini.

Pak sopir kemudian mengatakan bahwa jaman itu jaman susah, dan orang orang tua bilang kalau jaman selalu berubah, nanti akan datang jaman yang lebih enak, tapi ganjil, karena banyak orang kaya merasa miskin, banyak orang miskin merasa kaya. Lalu beliau menjelaskan, “sekarang udah kejadian nih pak, orang kaya berasa susah, contohnya gini nih, beli motor cash bisa, tapi ngredit. kebalikannya, orang susah berasa kaya, makan aja pas pasan, motor gonta ganti baru mulu…tapi saya percaya, jaman mah bakalan muter terus, nanti juga ada lagi jaman susah, terus jaman senang lagi. yang penting mah tawakkal aja deh sama kerja yang bener”.

Saya speechless, benarlah kata bapak ini, roda zaman akan selalu berputar, sampai akhirnya nanti akan datang zaman Kaliyuga, dimana awatara terakhir Bathara Wisnu datang ke bumi untuk menegakkan keadilan, sebelum alam semesta digulung, muslim menyebutnya Imam Mahdi dan kiamat…

bapak veteran dan hati nurani kita

Ketika kita naik angkutan umum yang penuh sesak sehingga sebagian penumpang harus berdiri, akankah kita merelakan tempat duduk yang kita tempati untuk diberikan kepada orang sepuh, ibu hamil, orang cacat, ataupun kepada siapa saja yang lebih membutuhkan duduk daripada kita?

Kalau anda masih rela memberikan tempat duduk anda, entah dengan alasan ajaran agama, empati, kasihan, atau dharma, itu berarti anda telah membuktikan bahwa anda masih punya sisi manusia yang punya hati nurani dan masih mau mendengarnya.
Saya ingin menceritakan keadaan KRL jabotabek yang setiap hari saya naiki, KRL ini disebut commuter line, selalu penuh dan berdesakan pada peak time, pagi hari menuju Jakarta, sore hari menuju keluar Jakarta (bogor, depok, bekasi, serpong, atau tangerang). Saking penuhnya sampai AC dan kipas angin pun tidak mampu mengurangi pengapnya udara di dalam gerbong sehingga hampir selalu ada jendela yang dibuka. Nah, di setiap gerbong ada bagian khusus tempat duduk prioritas, yang diperuntukkan bagi ibu hamil, orang lanjut usia, anak kecil, dan orang dengan keterbatasan fisik. Di tempat inilah saya setiap kali melihat drama, orang orang yang mengikuti hati nuraninya dengan memberikan tempat duduknya kepada orang yang lebih membutuhkan, walau mungkin ia sendiri juga butuh duduk. Atau orang yang hati nuraninya sedemikian jauh terpendam sehingga suaranya tidak terdengar, jadi orang ini memilih pura pura tidur (orang tidur betulan dan pura pura tidur itu beda jauh, hehe) sehingga bisa pura pura tidak tahu kalau ada yang membutuhkan tempat duduk. Dan dengan pura pura tidak tahu itu dia berusaha menipu diri sendiri dengan pura pura tidak merasa bersalah karena tidak memberikan tempat duduknya karena dia toh (pura pura) tidak tahu kalau ada yang lebih membutuhkan. Betapa penuh kepura puraan hidup orang ini. Sampai saat ini saya belum menemukan orang yang dengan bangga tidak memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan dengan berbagai alasan. Orang orang yang tidak memberikan tempat duduknya selalu bergaya sama : pura pura tidur atau pura pura keasyikan membaca buku atau gadgetnya.

Pagi ini, di gerbong yang saya naiki, dari pintu yang terdekat dengan saya, masuklah seorang bapak sepuh berseragam legiun veteran RI. Karena di stasiun itu keadaan gerbong sudah agak penuh, maka bapak ini terpaksa berdiri di dekat pintu, yang tidak ada batang diatas untuk berpegangan. Beberapa orang sudah mempersilahkan bapak ini untuk pindah ke dekat tempat duduk prioritas, setidaknya agar bapak ini tidak tergencet ketika nanti kereta berhenti di stasiun stasiun selanjutnya dan penumpang mulai menambah penuhnya gerbong, dan bisa berpegangan sehingga tidak kehilangan keseimbangan ketika kereta mengerem atau menambah laju. Tempat duduk prioritas terdekat dengan bapak ini sudah ditempati oleh dua orang laki laki yang masih muda, dan seorang ibu hamil. Seperti yang sudah sudah, kedua pemuda ini memilih untuk pura pura tidur, tidur sangat nyenyak setengah pingsan sehingga ketika ada beberapa orang yang mencoba membangunkan agar mereka mau memberikan tempat duduknya kepada bapak veteran ini, mereka tidak bereaksi sedikitpun. Sampai akhirnya ibu hamil inilah yang berdiri dan menawarkan tempat duduknya kepada bapak veteran kita. Karena kebetulan ibu hamil ini sudah akan turun di stasiun berikutnya.

Kepada orang lanjut usia yang bukan veteran pun kita tetap harus menghormati dan menghargai, apalagi veteran, yang mestinya sedikit banyak punya andil atas kemerdekaan yang kita nikmati ini. Jadi selain harus menghormati, kita juga hutang budi kepada para veteran kita. Namun inilah yang tadi terjadi, rasa hormat, sungkan, dan rasa hutang budi tertutup oleh kenikmatan semu duduk di kereta api selama beberapa menit, kenikmatan semu yang harus ditebus dengan segenap kepura puraan untuk menutupi rasa bersalah.

keterbatasan pikiran dalam suatu penafsiran

Suatu keadaan, kejadian, atau eksistensi suatu hal, yang dipahami oleh indera kita, kelihatannya terbatas, atau “begitu begitu saja”. Tapi aslinya, ada penjelasan yang tak terkira panjangnya, dan hanya dibatasi oleh keterbatasan pikiran kita.
Coba kita tanya diri sendiri, adakah suatu hal yang bisa kita percayai tanpa keraguan sama sekali (tentu saja, diluar kepercayaan agama/ideologi ya), apakah otak kita benar benar tahu faktanya? Apakah otak kita mampu memahami fakta dan pengetahuan dibalik hal itu?

Kita akan menyadari bahwa akal pikiran kita itu sangat terbatas. Dan pikiran kita tidak mampu bahkan sekedar membayangkan hal hal diluar batas pengetahuannya.

Misalnya, sebut saja tsunami disebabkan gempa, gempa disebabkan oleh bertabrakannya lempeng benua. Setidaknya sampai saat ini, hal itulah yang saya tahu. Saya bisa mempercayai penjelasan tadi, karena ya pengetahuan saya ya baru sebatas itu. Pengetahuan saya belum memahami teori lain,misalnya, gempa gara gara Cthulhu yang sedang menggeliat di tengah tengah tidur panjangnya di r’lyeh, dan siapa tahu r’lyeh itu letaknya di tengah samudra hindia (kalau anda gak paham, silahkan digoogling H.P Lovecraft), atau teori lain lagi, misalnya percobaan bom superdahsyat yang dilakukan secara sembunyi sembunyi oleh badan intelijen Korea Utara, misalnya lho. Jadi saya (dan mungkin anda juga) memilih untuk menerima teori penyebab tsunami adalah berbenturannya lempeng benua karena teori itu satu satunya yang masuk akal bagi kita.

Sementara seperti yang kita ketahui bersama, pikiran itu terbatas, jadi pastilah ada kemungkinan alternatif teori lain yang masih menunggu untuk bisa masuk akal bagi kita, dan untuk saat ini, alternatif alternatif tersebut adalah hal yang ghoib belaka, belum ada, atau malah kita sangka hanya isapan jempol. Contohnya seperti handphone saja, 200 tahun yang lalu, ide tentang percakapan satu orang ke orang lain jarak jauh masih ghoib, 100 tahun kemudian, ide itu sudah bisa dituangkan oleh sekian inventor dari Charles Grafton Page sampai Alexander Graham Bell, pengetahuan manusia sudah bisa menerima nya sebagai suatu yang bisa dipahami, dus, bukan ghoib lagi. Pada titik ini, percakapan jarak jauh tanpa kabel juga masih ghoib. Jaman sekarang kita sudah bisa tidak sekedar berkata kata, tapi bisa sambil lihat tampang lawan bicara kita, atau sambil ngirim data.
Semakin kita mempelajari tentang alam raya ini, semakin kita sadar bahwa pengetahuan kita masih sangat kueciilll. Semakin kita memahami sesuatu, akan kita sadari bahwa yang belum kita pahami itu masih buanyak.

Untuk itulah kita tidak perlu mati matian membela suatu teori, atau membantah suatu teori, hanya karena kita pikir kita ngerti. Siapa tahu ada kebenaran lain yang memang belum kita pahami sehingga bagi kita kebenaran itu tidak masuk akal. Sebanyak apapun data yang kita kumpulkan untuk mendukung teori kita, data itu adalah data yang kita berhasil pahami, yang belum kita pahami, ya kita nggak tahu dan nggak kita kumpulkan. Tuhan menurunkan ayat ayatnya selain dalam bentuk kitab suci, juga dalam bentuk alam semesta ini, ummat islam menyebutnya ayat kauniyah. Kitab suci saja bisa multitafsir, apalagi alam semesta yang luasnya nggak kira kira ini (sekali lagi, nggak kira kira ini menurut pengetahuan saya, siapa tahu kapan kapan nanti ada yang berhasil memetakan luas alam semesta) pastilah ada banyak sekali penafsiran sesuai tingkat pemahaman seseorang.

Ketika seseorang yang merasa pemahaman agamanya paling benar berkata bahwa ajaran adat kuno, misalnya, tradisi kejawen, adalah klenik belaka. Ya sebaiknya tidak usah didebat, karena memang dia belum mengetahui penjelasan dibalik tradisi itu, penjelasan ilmiah yang bisa dipahaminya. Contohnya banyak, diantaranya adalah larangan duduk di depan pintu karena dikhawatirkan ditabrak setan lewat sehingga susah jodoh, langsung dihakimi sebagai kebiasaan bodoh orang desa yang terbelakang. Padahal penjelasan ilmiahnya ya kurang lebih, kalau duduk di depan pintu resiko masuk angin itu besar, karena konstruksi rumah orang jawa kuno adalah dinding depan rumah minim jendela, hanya ada satu pintu, jadi di satu lubang inilah lalu lintas angin begitu kencang. Contoh lain adalah nyekar ke makam leluhur itu sesat dan harus diberantas. Padahal dengan menziarahi makam leluhur, orang tua, kakek nenek, mbah buyut, akan lebih menyadarkan kita bahwa kita semua akan mati suatu saat nanti, menyusul mereka, sehingga kita bisa mempersiapkan diri kita dengan numpuk dharma baik yang bisa buat nolong kita di kehidupan selanjutnya, atau kalaupun kita tidak percaya kehidupan setelah mati, setidaknya amal baik kita akan membuat kita dikenang dengan baik oleh orang orang yang masih hidup.

Begitulah, semua hal di dunia ini, bisa dipahami menurut tafsiran masing masing, tafsiran masing masing menurut pada batas pengetahuan masing masing juga.

komunikasi sosial

Pagi ini kembali saya berkesempatan untuk mendapat “kuliah” gratisan dari supir angkot. Supir kali ini berbeda dengan supir always positive yang dulu pernah saya ceritakan.

Kali ini pak supir memberi saya opininya tentang kurangnya komunikasi akhir akhir ini.
Berawal dari seorang ibu yang berdiri di pinggir jalan, seperti lazimnya angkot, angkot ini berhenti di depannya lalu supir menawarkan untuk naik dengan sopan, si ibu ini mematung saja, tidak berekspresi sama sekali, entah itu menolak, atau sekedar menggelengkan kepala, malah buang muka.

angkot pun berjalan kembali dengan supir yang mulai bercerita. “beginilah pak, jaman sekarang orang gak ada komunikasinya. sekedar geleng kepala kek, atau nolak pake omongan. dieem aja kaya patung”

saya cuma mengiyakan, sambil menunggu apa opini selanjutnya…

“orang sekarang jarang ngobrol pak, di angkot aja, pada diem dieman kaya lagi musuhan” saya jawab “ya kan gak kenal pak”, beliau menjawab lagi “yee, gak kenal kan bukan berarti ga bisa ngobrol pak, kecuali beda bahasa”

angkot berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang, lalu pak supir melanjutkan “saya bawa angkot dari tahun 95 nih, dulu orang naik angkot biarpun saling gak kenal, akan ngobrol. misalnya satu dari jakarta satu dari bogor, mereka akan saling ngobrol, lalu ceritain daerah asal, atau tujuan masing masing, biarpun si orang jakarta ini misalnya, buta sama sekali tentang daerah bogor yang diceritain, dia bakalan iyain aja, seenggaknya dapet pengetahuan baru tentang daerah yang dia belum tahu. gitu juga sebaliknya mas (pak supirnya kurang konsisten, kadang panggil saya pak, kadang mas). atau ngobrol sama saya, nanya kalo mau kesini sini, turunnya dimana. nah sekarang, orang gak ngerti turunnya dimana, nanya orang kagak, nanya supir juga kagak. tau tau kelewat aja”

“iya sih pak, saya sering nemuin kaya gitu di angkot 32, orang naik dari cibinong, mau ke kantor pajak cibinong, dieemmm aja, sampe karadenan baru nanya, yah kelewat” jawab saya.

pak supir menjawab “nah itu die mas, salah siapa coba? masa salah supirnya, hehehe” dia melanutkan lagi “orang sekarang mas, begitu naik angkot, langsung keluarin hape, ketak ketik sendiri, sebelahan dempet juga kagak nyapa, apalagi ngobrol” saya lirik seorang bapak yang baru naik angkot terus ngetik di blackberrynya, tersenyum kecut waktu dengar omongan pak supir angkot tadi.

“orang kalo banyak ngobrol, banyak komunikasi, akhirnya orang juga gampang saling percaya mas. kalo orang saling percaya satu sama lain, usaha juga lancarrrrr. misalnya jualan, atau bawa angkot, atau apa kek, kalo komunikasi kita lancar, hubungan sama orang juga lancar, itu artinya, orang percaya sama kita, usaha lancar, rejeki lancar juga akhirnya. atau gak usah jauh jauh ke orang lain, sama anak istri sendiri aja,kalo komunikasi lancar, permasalahan di dalam keluarga juga cepet kelarnya, masalah kan selalu ada di keluarga, mas sendiri udah keluarga belum?” saya jawab apa adanya “udah pak, anak saya udah dua kok”. pak supir melanjutkan lagi “naah, itu. coba bayangin, kalo suami istri, atau bapak sama anak, kurang ngobrol, kurang komunikasi, anak punya masalah di sekolahan, diem diem aja, tau tau jadi berandalan. atau kita kurang ngobrol sama istri, seharian narik dimana, ngapain aja, ya wajar kalo tiba tiba istri curiga lalu gak mau ngelayanin, hihihihihihihi (di titik ini tiba tiba pak supir tertawa geli, entah kenapa)”

akhirnya saya sampai di stasiun bojong gede, bayar angkot lalu turun sambil berterima kasih atas kuliah nya pagi ini. di atas krl saya termenung…saya ini sudah bagus komunikasinya apa belum yah?…

sandyakalaning jaman

Ibu pertiwi sedang hamil tua (lagi). Begitu ungkapan yang sering saya dengar. Situasi sosial politik di negeri ini yang sudah semakin downward spiral, kacau balau. yang bahkan bagi orang orang yang apatis pun sudah mulai memuakkan.

Korupsi merajalela, panggung perpolitikan semakin absurd dan tidak lucu. Drama peradilan yang sebenarnya terang benderang bisa dibuat mulur mungkret sehingga makin lama malah makin gelap. Lalu kejadian kejadian pengalih perhatian mulai bermunculan, yang mana semakin sedikit orang yang menganggap serius karena sudah terlalu sering.

Rakyat sudah semakin muak akan tingkah para pejabat negara, sementara kondisi perekonomian yang dibangga banggakan pertumbuhannya telah naik sekian persen, impact nya sama saja di level rakyat jelata. Malah sebentar lagi harga bbm akan dinaikkan. Lalu rakyat yang muak dan kecewa ini menjadi semakin mudah terbakar amarah.

Sejarah menunjukkan bahwa situasi seperti ini selalu menandai senjakala suatu era, untuk sebuah titik balik besar. Dan pergantian era seperti ini selalu memakan tumbal, 1945, 1948, 1965, 1998, sejarah akan terus berulang.

Marilah kita, apapun agama kepercayaan kita, apapun mahzab kita, apapun ideologi kita, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dengan caranya masing masing. Semoga kita semua bisa melewati gerbang besar pergantian jaman ini dengan selamat…

lebih mudah menjual kebencian dan kelucuan

saya amati di tempat ibadah di dekat tempat tinggal saya, acara pengajian yang ramai dikunjungi orang dengan antusias adalah acara yang isinya selalu, perangi kafir, perangi yahudi, binasakan/usir (insert a sect name here), sambil melucu dengan lelucon SARA yang anehnya dikumandangkan dengan loudspeaker berdaya tinggi.

Perlu dipahami bahwa tempat tinggal saya adalah daerah yang plural, pemeluk berbagai agama dan kepercayaan ada disitu. Tidakkah mereka menyadari bahwa lelucon SARA mereka juga didengar oleh orang yang agamanya sedang dibuat lelucon? atau ketika mereka menyebut suatu budaya asli suatu suku sebagai sesat, bodoh, dan ndeso, apakah mereka merasa lelucon itu bagus?

Atau jangan jangan mereka tidak berpikir sampai kesitu, karena toh mayoritas, bisa berbuat apa saja, dan kebenaran ada di pihak mereka sehingga yang tidak sepaham dengan mereka berarti memang sangat salah.

Sedangkan pengajian yang membakar kebangkitan kita sebagai bangsa, dan menyerukan cinta kasih sesama makhluk Tuhan, walaupun kadang ramai juga, tapi tidak seramai yang isinya kebencian seperti diatas. Dan seperti lazimnya, pengajian pengajian seperti ini pasti pernah dianggap sesat dan/atau pendangkalan akidah.

Akidah ya akidah, menjaga akidah tidak berarti memerangi pihak lain yang penafsiran terhadap kitab sucinya agak berbeda. Bersikap sebagai rahmatan lil alamin juga suatu hal yang perlu. Bukan hanya menggemborkan nahi munkar, amar makruf juga perlu.

Kita ini bangsa yang besar, terdiri dari berbagai macam suku bangsa agama ideologi. kita mewarisi kebesaran ini dari sejak jaman dulu waktu mahapatih gajah mada mengumandangkan sumpah palapa. kalau sekedar sikap toleransi saja kita sudah tidak punya, maka tinggal menunggu waktu, waktu kehancuran bangsa ini…

ajaran lama yang terlupakan

Melihat keadaan sosial politik negeri ini yang semakin carut marut, ditingkahi oleh berita berita pengalihan isu, dan cerita peradilan para politisi yang sama sekali tidak lucu dan tidak menghibur, pastimembuat kita berpikir, sebenarnya apanya yang salah sih?

Mungkin ada sebagian diantara kita yang berpikir, situasi ini adalah sandyakalaning (jawa : masa senja) suatu jaman, dimana sedang ada persiapan great reboot, untuk menuju jaman baru yang utopis, murah sandang pangan, penguasanya jujur amanah, rakyatnya sejahtera.

Tapi pasti ada juga yang berpikir, mencari apa yang salah, sehingga bisa mempersiapkan generasi baru yang sudah di “patch” dengan menghindari kesalahan tersebut, agar ke depannya negeri ini bisa lebih baik. Kalau mau jujur, segenap ajaran dan pesan moral yang diajarkan kepada kita pastilah baik semua, hanya implementasinya yang tidak benar sehingga negara ini bisa seperti sekarang ini.

salah satu yang ingin saya bahas kembali adalah serat wedhatama karangan KGPAA Mangkunegara IV, dua pupuh(bait) pertama dulu saja

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung.
Kang tumrap neng tanah Jawa
Agama ageming aji.

 http://www.youtube.com/watch?v=ypwODttE2…

pupuh(bait) pertama ini menerangkan, bahwa kita harus menghindari angkara/kejahatan. Beserta prolog dari keseluruhan serat, yang menerangkan bahwa serat ini adalah ajaran kepada anak keturunan yang disampaikan dalam bentuk kidung yang indah dan tertata, agar ilmu luhung (luhur) yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Dan juga bahwa di tanah jawa ini, agama adalah pakaian bagi kehormatan, maksudnya tuntunan untuk menjaga kehormatan kita sebagai manusia.

Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun,
Yen tan mikani rasa
Yekti sepi asepa lir sepah, samun
Samangsane pasamuan
Gonyak ganyuk nglilingsemi.

 http://www.youtube.com/watch?v=rRKw3v02v…

Sedangkan di bait kedua ini, menerangkan bahwa yang dijelaskan dalam serat wedhatama ini adalah panduan agar jangan sampai kita kurang perasaan/pengertian/pemahaman/kesadaran. Walaupun sudah tua nan pikun, tapi kalau belum punya kesadaran diri, sebenarnya sama saja dengan ampas yang tidak berguna. Pada setiap interaksi sosial hanya akan membawa malu belaka. Ini adalah hal yang secara gamblang bisa kita amati, bahwa orang orang yang dari segi usia harusnya sudah dewasa, tapi karena ‘pangrasa’nya belum terasah, maka jadinya hanya bertingkah konyol tapi tidak lucu.

Pangrasa disini bisa berarti sopan santun, saling menghormati, saling menghargai, berbuat tanpa pamrih, gotong royong, dan sebagainya, intinya pangrasa itu adalah kurang lebih : kesadaran diri

Kurangnya pangrasa membuat kita tidak bisa memberi contoh kepada generasi yang lebih muda. Ini adalah salah satu hal yang menghalangi kita untuk berusaha menciptakan generasi baru yang lebih baik, karena kita sendiri sebagai orang orang yang harusnya bertindak dewasa, ternyata belum bisa memberikan teladan yang baik.

Jadi, untuk berusaha menciptakan generasi baru yang lebih baik dan tidak cengeng, kita lah yang harus berusaha merubah diri sendiri agar bisa menjadi contoh yang baik.

manusia kotak kotak

Belakangan ini setelah marak aksi menuntut pembubaran ormas yang membawa nama agama, kemudian merembet ke bahasan tentang ormas ormas berlabel etnis. Manusia begitu suka mengkotak kotakkan dirinya, menempatkan diri dalam batas batas tertentu. Yang -disadari atau tidak- tentu saja akan membatasi potensi diri sendiri.

Memang sejak awal, orang sudah mengkotak kotakkan diri kedalam kategori tertentu. Misalnya saat sekolah menengah, orang akan memilih untuk masuk ke ‘kotak’ IPA, atau IPS, atau kejuruan. selepas itu, masuk ‘kotak’ lagi, fakultas ini fakultas itu. Tapi itu buat saya tidak masalah, toh mereka melakukan itu dalam rangka mengejar cita cita (minimal karena disuruh orang tua agar bisa mengejar cita cita orang tua).

Yang jadi masalah adalah ketika sudah sama sama gerang (jawa : dewasa), orang yang harusnya terjun ke masyarakat yang bhinneka tunggal ika dan plural ini, malah masih sibuk membatasi diri dalam kotak kotak tertentu. Kotak kotak agama, kotak kotak etnis, kotak kotak merk kamera mahal, kotak kotak klub sepakbola idola, kotak kotak merk smartphone. Dan seperti kita ketahui bersama kadang kotak kotak ini bisa memunculkan friksi yang berakibat negatif, dari mulai kekerasan keyboard, kekerasan verbal sampai kekerasan fisik.

Beberapa tahun lalu kita alami bersama konflik antar agama yang menghasilkan banyak korban jiwa, lalu konflik etnis yang juga menghasilkan banyak jiwa melayang, belum lagi trauma psikis yang dialami warga setempat. Kemudian yang masih berlangsung walaupun korbannya tidak se massif konflik antar agama atau etnis, adalah konflik antar supporter klub sepakbola yang mewakili kota.

Sesungguhnya apa yang terjadi dengan Bhinneka Tunggal Ika? slogan yang kita gembar gemborkan sejak SD. Kita harusnya memiliki semangat untuk menjaga keharmonisan hubungan antar warga negara, kita hidup di negara tanah air yang sama, menghirup udara yang sama. Betapa para founding father Indonesia dan pencetus sumpah pemuda akan menangis kalau melihat keadaan kita skarang yang begitu gampang disulut hanya dengan membenturkan kotak kita dengan kotak yang lain.

Sebelum ada negara Indonesia, para leluhur kita punya kearifan lokal yang mengajarkan tentang harmoni dengan alam, tentu ini termasuk juga harmoni dengan sesama manusia sebagai entitas yang hidup dalam ekosistem alam semesta. Kemudian masuklah agama agama yang dibawa oleh para pendatang, saat agama agama ini baru masuk, yang bertahan hanyalah yang mampu ber asimilasi, menjaga keharmonisan dengan sikap spiritual yang sudah exist sebelum agama agama ini masuk.

Maka ketika kita di beberapa dekade ini menjadi begitu beringas kepada saudara saudara sebangsa hanya karena beda ideologi agama atau etnis atau klub idola atau apapun, maka sesungguhnya kita sudah mundur berabad abad sebelum budaya lokal kita terbentuk, masa pra sejarah. Secara hitungan tahun kita maju tapi secara moral kita mundur, mundur jauh. Kalau diterus teruskan, kita akan sama levelnya dengan hewan.

Kotak kotak ini sangat wajar sebenarnya, kita butuh kotak kotak ini untuk menegaskan identitas kita. Dan perbedaan kotak kotak ini juga akan membuat hubungan berbangsa dan bernegara menjadi lebih semarak. Yang jadi tugas kita adalah bagaimana agar kita bisa menjaga identitas kita dengan kotak kotak masing masing, tapi tanpa harus memaksakan orang lain untuk ikut dalam kotak kita, atau menjelek jelekkan kotak lain. Karena hal itu akan menodai keharmonisan hubungan kita dengan orang lain. Sementara manusia adalah makhluk sosial, yang butuh untuk berhubungan dengan orang lain.

Bisakah kita mengklaim kembali status kita sebagai manusia sebagai makhluk sosial?